IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN POTENSI-POTENSI WISATA
AKTUAL DAN POTENSIAL
Pandu Dwi Utomo
Abstrak
Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memetakan potensi-potensi
wisata aktual dan potensial di Kabupaten
Kapuas Hulu bagian selatan tepatnya di Desa Tanjung dengan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA).
Peneitian
ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Subyek dari penelitian ini adalah seluruh lapisan masyarakat di Desa Tanjung
tersebut. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, partisipatif dalam
pemetaan, dan Focus Group Discussion
yang didalamnya disebarkan pula angket untuk mendapatkan data yang diperlukan.
Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan
analisa data.
Implementasi
metode yang digunakan dalam menggali potensi-potensi wisata di Desa Tanjung
adalah metode Participatory Rural
Appraisal (PRA) yang didalamnya terdiri dari tahapan-tahapan proses
partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat, yaitu: 1) Melakukan pengamatann
selama di lapangan (observasi), 2) Partisipatif pemetaan, 3) Focus Group Discussion (FGD).
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pariwisata
merupakan sektor yang banyak dikembangkan tidak hanya di negara maju tetapi
juga negara berkembang khusunya di Indonesia. Karena pariwisata dianggap
sebagai sektor yang mudah mendatangkan sumber devisa dalam kurun waktu yang
relatif cukup singkat. Menurut Undang-Undang No.10 tahun
2009, pariwisata merupakan berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah,
dan pemerintah daerah. Sedangkan menurut World Tourism Organization (WTO),
pariwisata adalah kegiatan seseorang yang bepergian ke atau tinggal di suatu
tempat di luar lingkungannya yang biasa dalam waktu tidak lebih dari satu tahun
secara terus menerus, untuk kesenangan, bisnis ataupun tujuan lainnya. Berdasarkan data yang di publish
Kementerian Pariwisata Pemasukan devisa melalui sektor pariwisata di Indonesia
terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2011-2015 tercatat bahwa sektor
pariwisata termasuk kedalam 5 peringkat teratas dengan penerimaan devisa pada
tahun 2011 yaitu sebesar 8,554.39 ( dalam juta USD), kemudian pada tahun 2012
yaitu sebesar 9,120.85 ( dalam juta USD), tahun 2013 sebesar 10,054.15 ( dalam
juta USD), tahun 2014 sebesar 11,166.13 ( dalam juta USD), dan tahun 2015
sebesar 12,225.89 ( dalam juta USD). Terhitung mulai tahun 2013 sektor
pariwisata berhasil menepati peringkat ke-4, hanya kalah oleh sektor minyak dan
gas bumi, batu bara, dan minyak kelapa sawit. ( Ranking devisa pariwisata terhadap
11 ekspor barang terbesar, tahun 2011-2015, www.kemenpar.go.id)
Oleh
sebab itu sektor pariwisata banyak dijadikan sebagai agen percepatan
pengembangan oleh negara-negara berkembang dan juga daerah-daerah yang tercakup
didalamnya. Salah satu contohnya yaitu Kapuas Hulu. Kapuas
Hulu merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat. Ibukota
kabupaten ini terletak di Putussibau yang dapat di tempuh dari Pontianak
menggunakan transportasi darat sejauh ±814 km dengan waktu tempuh 17 jam dan trasnportasi
udara dengan menggunakan pesawat berbadan kecil. Kabupaten Kapuas Hulu
merupakan kabupaten yang memiliki potensi besar di bidang pariwisata.
Setidaknya tiga potensi besar yang membuat Kabupaten Kapuas Hulu layak menjadi
tujuan wisata yaitu: Potensi budaya, keanekaragaman budaya, bahasa, dan
keseharian masyarakat yang salah satu contohnya adalaha Suku Dayak. Potensi
alam, hampir 80% wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu merupakan kawasan yang
dilindungi, diataranya: Taman Nasional, Hutan Lindung, dan Cagar Alam. Dengan
luasnya wilayah yang masih dilindungi menandakan bahwa potensi alam di
Kabupaten Kapuas Hulu sangat banyak. dan di Kalimantan Barat, Kapuas Hulu
merupakan salah satu kabupaten yang memiliki 2 taman nasional dalam satu
kabupaten yaitu Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun.
Selain itu terdapat juga objek dan daya tarik wisata aktual yang dimiliki
Kabupaten Kapuas Hulu. Beberapa diantaranya adalah Desa Sadap dan Desa Meliau.
Sebagai gambaran desa-desa tersebut merupakan desa wisata yang sudah terkenal di
Kabupaten Kapuas Hulu. Desa-desa ini memiliki beragam potensi baik potensi alam
yaitu hutan yang masih alami yang menjadi habitat bagi orangutan (Pongo pygmaeus), potensi budaya seperti
keunikan dan keseharian dari suku asli Kalimantan yaitu suku dayak, maupun
potensi kuliner seperti ikan semah yang diolah dengan kuah kuning.
Kabupaten Kapuas Hulu dengan luas 29.842
km2 masih menyimpan banyak sekali potensi kekayaan alam dan budaya yang belum
terekspos yang bisa menjadi objek daya tarik wisata di Provinsi Kalimantan
Barat khususnya di Desa Tanjung Kabupaten Kapuas Hulu bagian Selatan. Pemilihan
Desa Tanjung ini dimaksudkan agar terjadinya pemerataan ekonomi mengingat letak
Desa Tanjung yang cukup jauh dari Ibukota Putussibau, selain itu pemilihan desa
ini juga dilakukan untuk mengangkat keunikan suku khas Kalimantan yaitu Suku
Dayak di Desa Tanjung yang berada di wilayah jajaran kaki Gunung Muller. Dikarenakan
sejauh ini potensi-potensi wisata yang sudah terekspos seperti Taman Nasional
Betung Kerihun, Taman Nasional Danau Sentarum, Mupa Kencana atau Danau
Piangkuak, Rumah Betang Orpanimpan Bolong berada di wilayah Kapuas Hulu bagian
utara. Putussibau yang merupakan Ibukota dari Kabupaten Kapuas Hulu juga terletak di wilayah
bagian Utara. Hal ini menyebabkan pembangunan lebih banyak dan berpusat di
bagian Utara. Selain itu, dengan diresmikanya Pintu Lintas Batas (PLB) membuat sektor
pariwisata di wilayah bagian Utara berkembang dengan pesat. Penelitian ini perlu dilakukan agar
perekonomian tidak hanya berputar di pusat kota melainkan hingga keplosok untuk
memeratakan perekonomian khusunya di Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan fakta
tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan judul “Identifikasi dan Pemetaan Potensi-Potensi
Wisata Aktual dan Potensial di Desa Tanjung”.
B. Pembatasan
Masalah
Dengan luasnya wilayah Kabupaten Kapuas
Hulu yang mencapai 29.842 km2 dan waktu penelitian yang sangat terbatas yaitu
selama satu bulan, maka peneliti membatasi penelitian ini yaitu di wilayah
Kapuas Hulu bagian Selatan tepatnya di Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah,
Kabupaten Kapuas Hulu. Hal ini dilakukan untuk mengefisiensi waktu, biaya, dan
tenaga serta tingkat akurasi data yang akan diperoleh.
C. Tujuan,
Sasaran, dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian yang akan
dilakukan ini adalah untuk mengidentifikasi
dan memetakan potensi-potensi wisata aktual dan potensial . Sasaran dari dari
penelitian ini, yaitu: 1) Tergalinya potensi-potensi wisata aktual dan
potensial di Desa Tanjung; 2) Terpetakan potensi-potensi wisata di Desa Tanjung.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk mengetahui
potensi-potensi wisata khususnya yang terdapat di Kabupaten Kapuas Hulu bagian
selatan, sebagai informasi kepada masyarakat umum terutama kepada pemerintah
agar memperluas daerah pengembangan pariwisata, dan juga sebagai pengayaan data
bagi pemerintah dan juga masyarakat pada umumnya.
D. Ruang Lingkup Penelitian
1. Ruang Lingkup
Wilayah Penelitian
Kabupaten Kapuas Hulu yang secara
administratif terbagi menjadi dua bagian yaitu Kapuas Hulu bagian utara dan
Kapuas Hulu bagian selatan. Ibukota dari Kabupaten Kapuas Hulu ini adalah
Putussibau yang letaknya berada di Kabupaten kapuas Hulu bagian Utara. Dalam
penelitian ini difokuskan pada Desa Tanjung yang letaknya ±64 km dari Putussibau dengann waktu
tempuh ±2,5 jam.
2. Ruang Lingkup
Substansi Penelitian
Ruang lingkup substansi dalam penelitian
ini meliputi beberapa aspek yaitu aspek fisik dan non fisik kawasan. Aspek
fisik kawasan ini terdiri dari kondisi administratif yang meliputi batas-batas
wilayah dan luas wilayah. Dan aspek non fisik kawasan yang terdiri dari aspek
sosial budaya dan aspek sosial ekonomi. Aspek sosial budaya adalah keunikan
potensi etnografi mencakup bahasa, sistem religi dan kepercayaan, organisasi
sosial dan strata masyarakat, sistem kekerabatan, kesenian dan lain-lain. Dan
aspek sosial komomi yang meliputi sumber perekonomian daerah, sumber mata
pencaharian penduduk, serta kondisi demografis.
II. STUDI PUSTAKA
A.
Sustainable Tourism Development
Pembangunan pariwisata
harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat
didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi,
adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat. (Piagam Pariwisata
Berkelanjutan,1995). Menurut William F Theobalt (2005) menyebutkan bahwa
pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikenali melalui
prinsip-prinsipnya yang dielaborasi berikut ini. Prinsip-prinsip tersebut
antara lain partisipasi, keikutsertaan para pelaku (stakeholders), kepemilikan
lokal, penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi tujuan-tujuan
masyarakat, perhatian terhadap daya dukung, monitor dan evaluasi,
akuntabilitas, pelatihan, serta promosi.
1. Partisipasi
Masyarakat
setempat harus mengawasi atau mengontrol pembangunan pariwisata dengan ikut
terlibat dalam menentukan visi pariwisata, mengidentifikasi sumbersumber daya
yang akan dipelihara dan ditingkatkan, serta mengembangkan tujuan-tujuan dan
strategi-strategi untuk pengembangandan pengelolaan daya tarik wisata.
2. Keikutsertaan para pelaku
Para pelaku yang
ikut serta dalam pembangunan pariwisata meliputi kelompok dan institusi LSM
(Lembaga Swadaya Masyarakat), kelompok sukarelawan, pemerintah daerah, asosiasi
wisata, asosiasibisnis dan pihak-pihak lain yang berpengaruh dan berkepentingan
serta yang akan menerima dampak dari kegiatan pariwisata.
3. Kepemilikan Lokal
Pembangunan
pariwisata harus menawarkan lapangan pekerjaan yang berkualitas untuk
masyarakat setempat. Beberapa pengalaman menunjukan bahwa pendidikan dan
pelatihan bagi penduduk setempat serta kemudahan akses untuk para pelaku bisnis
atau wirausahawan setempat benar-benar dibutuhkan dalam mewujudkan kepemilikan
lokal.
4. Penggunaan Suber daya yang
berkelanjutan
Pembangunan
pariwisata harus dapat menggunakan sumber daya dengan berkelanjutan yang
artinya kegiatan-kegiatannya harus menghindari penggunaan sumber daya yang
tidak dapat diperbaharui secara berlebihan.
5. Mewadahi Tujuan-tujuan Masyarakat
Tujuan-tujuan
masyarakat hendaknya dapat diwadahi dalam kegiatan pariwisata agar kondisi yang
harmonis antar pengunjung/ wisatawan, tempat, dan masyarakat setempat dapat
terwujud.
6. Daya Dukung
Daya dukung atau
kapasitas lahan yang harus dipertimbangkan meliputi daya dukung fisik, alami,
sosial, dan budaya.
7. Monitor dan Evaluasi
Kegiatan
monitor dan evaluasi pembangunan pariwisata berkelanjutan mencakup penyusunan
pedoman, evaluasi dampak, kegiatan wisata, serta pengembangan
indikator-indikator dan batasan-batasan untuk mengukur dampak pariwisata.
8. Akuntabilitas
Perencanaan
pariwisata harus memberi perhatian yang besar pada kesempatan mendapatkan
pekerjaan, pendapatan, dan perbaikan kesehatan masyarakat lokal yang tercermin
dalam kebijakan-kebijakan pembangunan.
9. Pelatihan
Pembangunan
pariwisata berkelanjutan membutuhkan pelaksanaan program-program pendidikan dan
pelatihan untuk membekali pengetahuan masyarakat dan meningkatkan keterampilan
masyarakat.
10. Promosi
Pembangunan
pariwisata berkelanjutan juga eliputi promosi penggunaan lahan dan kegiatan
yang memperkuat karakter lansekap, sense
of place, dan identitas masyarakat setempat.
B. Participatory Rural Appraisal (PRA)
Participatory
Rural Appraisal (PRA), istilah ini mungkin sudah tidak
asing lagi di Indonesia terlebih pada saat melakukan penelitian-penelitian yang
berbasis atau berdasarkan pada masyarakat karena pendekatan ini sudah lama
diterapkan di Indonesia. Kalimat Participatory Rural Appraisal jika di bahasa
Indonesiakan adalah “Pemahaman Kondisi Pedesaan Secara Partisipatif”, yaitu
merupakan pendekatan dalam merumuskan perencanaan dan kebijakan di wilayah
pedesaan dengan cara melibatkan masyarakat seefektif mungkin. (Chambers dalam
Moeliono dan Rianingsih, 1996)
Dalam
melakukan identifikasi mengenai potensi-potensi pariwisata terlebih di suatu
tempat yang masih baru tingkat keaktifan para masyarakat sangatlah dibutuhkan.
Dengan pendekatan PRA, diharapkan sebagian besar masyarakat turut terlibat
aktif dalam proses perencanaan, pelaksaan, pengawasan, dan pada akhirnya hingga
menikmati hasil dari proses-proses tersebut. Pada intinya, PRA merupakan
pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan,
dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, serta
membuat rencana dan tindakan secara partisipatif. Terdapat tahapan-tahapan
dalam melakukan pendekatan PRA.
Selain
Participatory Rural Appraisal (PRA) digunakan juga pendekatan studi pemetaan. Mapping
atau pemetaan berasal dari kata peta yang artinya adalah gambaran atau
representasi unsur-unsur ketampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi
yang adakaitannya dengan permukaan bumi dan atau benda-benda angkasa, yang pada
umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil dengan skala/
diskalakan. ( ICA: International
Cartograph Asociation). Jadi, pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan, dan penggambaran permukaan bumi dengan
menggunakan cara atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy
dan hardcopy.
C. Definisi Skala
Likert
Dane Bertram pada jurnalnya
"Likert Scale" menjelaskan bahwa "A psychometric response scale
primarily used in questionnaires to obtain participant’s preferences or degree
of agreement with a statement or set of statements. Likertscales are a noncomparative scaling technique and are unidimensional
(only measure a single trait)in nature. Respondents are asked to indicate their
level of agreement with a given statement by wayof an ordinal scale."
Yaitu Skala respon psikometri terutama digunakan dalam kuesioner untuk mendapatkan
preferensi peserta atau tingkat kesepakatan dengan pernyataan atau set
pernyataan.Skala Likert adalah teknik skala non-komparatif dan unidimensional
(hanya mengukur sifattunggal) secara alami. Responden diminta untuk menunjukkan
tingkat kesepakatan melalui pernyataan yang diberikan dengan
cara skala ordinal. Dari pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa skala
likert merupakan metode perhitungan kuisioner yang dibagikan kepada responden
untuk mengetahui skala sikap suatu objek tertentu.
III. METODOLOGI
PENELITIAN
A. Metode
penelitian
Berdasarkan
tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi objek-objek daya tarik wisata baik
aktual maupun potensial, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode kualitatif. Dalam metode kualitatif ini peneliti menggunakan pendekatan
metode partisipatif. Metode partisipatif menurut Undang-undang nomor 23 tahun
2014 adalah hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahap perencanaan
pembangunan Daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok yang termarginalkan
memlalui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok
masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan. Husein Umar
dalam bukunya yang bejudul “Metodologi Penelitian Aplikasi dalam pemasaran” mengatakan
bahwa penelitian dengan metode partisipatif ini memiliki beberapa prinsip yang
harus dipenuhi antara lain ia memeiliki implikasi ideologis, membebrikan
manfaat langsung kepada masyarakat, dan
mengikutsertakan semua partisipan yang terlibat dalam penelitian, di mana
mereka sadar bahwa proses penelitian merupakan keselutuhan pengalaman
masyarakat di mana kebutuhan masyarakat dibangun serta kesadaran dan
kesepakatan masyarakat ditingkatkan. Dalam penelitian ini, metode partisipatif merupakan
pendekatan yang menjadi fokus bagi peneliti dalam upaya mengidentifikasi
objek-objek daya tarik wisata baik aktual maupun potensial yang ada di tempat
tersebut. Untuk memperoleh pemahaman tersebut, maka peneliti akan melakukan
analisis dari setiap data yang diperoleh.
B. Teknik
Pengumpulan Data
1.Studi
literatur
Teknik
pengumpulan data ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data sekunder dari
berbagai sumber seperti buku-buku, koran dan majalah, hingga berbagai artikel/
literatur-literatur yang sesuai dengan topik penelitian atau berdasarkan
penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.
2.
Partisipatif
Teknik
dalam pengumpulan data menggunakan metode partisipatif adalah keadaan dimana
peneliti melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Keterlibatan masyarakat ini
termasuk dalam melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Melakukan pengamatan
selama di lapangan (observasi), kegiatan pengamatan ini dilakukan bersama
masyarakat ketika berada di desa dan mengunjungi tempat-tempat objek wisata. 2)
Partisipatif Maping/ pemetaan, kegiatan ini dilakukan untuk melakukan pemetaan
wilayah desa dan objek-objek wisata yang ada di desa. 3)Focus Group Discussion (FGD), Focus
Group Discussion ini dilakukan dalam melakukan penggalian potensi wisata
C. Alat Kumpul
Data
Alat
kumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket yang disebarkan
dalam Focus Group Discussion untuk mendapatkan data yang diperlukan. Selain
itu, dalam penelitian ini juga menggunakan kamera sebagai dokumentasi selama
kegiatan penelitian.
D. Teknik Analisa Data
Dalam
peneitian ini teknik analisis yang digunakan berupa reduksi data, penyajian
data, dan kesimpulan data. Menurut Miles & Hubberman (1992:16) sebagaimanan
di tulis Malik, reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, pengabstakan, dan transformasi data “kasar” yang
muncul dari catatan-catan tertulis dilapangan. Data adalah sekumpulan informasi
atau nilai yang diperoleh dari pengamatan (observasi) suatu objek. Jadi,
penyajian data adalah menyajikan atau menampilkan sekumpulan informasi atau
nilai yang diperoleh dari pengamatan (observasi) suatu objek. Analisa data menurut
Spradley adalah pengujian sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan
bagian-bagianya, hubungan diantara bagian-bagian, dan hubungan bagianbagian itu
dengan keseluruhan.
IV.
Implementasi Pendekatan PRA dalam Penggalian Potensi Wisata di Desa Tanjung,
Kabupaten Kapuas Hulu
A.
Melakukan Pengamatan Selama Dilapangan (observasi)
1.Penelusuran
Kondisi Wilayah Desa
Penelusuran
kondisi wilayah desa ini dilakukan untuk melihat kondisi aktual serta melakukan
pengamatan langsung terhadap lingkungan dan sumberdaya desa tersebut yang
didalamnya tercangkup antara lain: ketinggian lokasi, sumber daya alam,
objek-objek potensial, permasalahan yang dihadapi masyarakat dan lingkungan,
keadaan sarana da prasarana umum berupa jalan dari dan menuju desa, dan juga
kondisi-kondisi penunjang lainya. Dalam penelusuran kondisi wilayah desa ini
dilakukan bersama-sama antara peneliti dan masyarakat setempat.
B.
Partisipatif Pemetaan
1.
Pencatatan Kalender Musiman Berdasarkan Kebiasaann Warga
Pencatatan
kalender musiman berdasarkan kebiasaan warga merupakan pengkajian tentang
kegiatan/ keadaan masyarakat yang bersifat teknis, sosial, ekonomi, dan aspek
lainnya yang terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu tertentu ( musiman),
sehingga dapat tergambarkan pola aktivitas atau kegiatan pada setiap musim atau
setiap tahunnya. Seperti contohnya pola bercocok tanam, saat-saat kekeringan,
saat-saat rawan untuk melakukan pariwisata yang mungkin dikarenakan faktor
curah hujan, wabah hama, wabah penyakit, dan lain-lain.
Mengingat
banyaknya aspek yang dipertimbangkan dalam pencatatan dan pembuatan kalender
musiman berdasarkan kebiasaan warga akan memeberikan manfaat waktu dan kondisi
yang ada serta diharapkan dapat mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak
diinginkan.
2.
Gambaran Pemetaan Wilayah Desa
Gambaran
pemetaan wiayah desa pada pendekatan Participatory
Rural Appraisal (PRA) digunakan untuk memahami keadaaan wilayah desa
tersebut beserta lingkungan dalam bentuk gambar peta atau sketsa desa yang
meliputi keadaan sumberdaya umum desa, peta penyebaran penduduk, peta
pemanfaatan lahandan sebagainya dengan memanfaatkan peralatan dan bahan
seadanya pada saat dilakukanya Focus
Group Discussion yang dilengkapi dengan keterangan kode atau simbol-simbol
tertentu. Dengan dibuatnya gambaran pemetaan wilayah desa ini, akan diperoleh
informasi mengenai potensi sumber daya yang dimiliki, letak geografs sumber
daya, batas-batas administrasi desa dan wilayah yang bermasalah.
3.
Kajian Mata Pencaharian Warga Desa
Kajian mata pencaharian warga desa
dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai jenis-jenis mata pencaharian
yang dilakukan warga desa, pola penyebarannya, prospekd an hambatannya serta
kemitraan-kemitraan ekonomi yang terjalin didalamnya. Selain data mata
pencaharian, juga data pergeseran minat warga terhadap jenis mata pencaharian
tertentu, aspek-aspek pendukung perekonomian warga ketersediaan dan keadaan
bahan baku untuk usaha, ketersediaan dan keadaan tenaga kerja, keterlibatan
laki-laki dan perempuan pada mata pencaharian tertentu serta pendapatan
masyarakatnya.
C.
Focus Group Discussion (FGD)
1.
Pembuatan Matriks Ranking
Pembuatan
matriks ranking dilakukan untuk menindaklanjuti pendataan dan kajian-kajian yang
telah dilakukan sebelumnya. Untuk lebih mempertajam hasil pendataan dan
kajian-kajian tersebut. Dan dalam menerapkan hal tersebut dapat menggunakan
teknik komparasi menggunakan skala Likert. Matriks yang berisi hasil olahan
tersebut disajikan dalam bentuk tabel dengan syarat-syarat atau
kriteria-kriteria tertentu.
2.
Penyusunan Rencana Kegiatan Spesifik Lokasi
Penyusunan
rencana kegiatan spesifik lokasi merupakan tindak lanjut setelah melakukan
penyusunan matriks ranking. Dalam melakukan penyusunan rencana kegiatan harus
bersifat lokal, partisipatif, dan operasional. Jadi, dengan melibatkan seluruh
lapisan masyarakat dalam proses perencanaan kegiatan dimaksudkan agar
kegiatan-kegiatan yang dibuat adalah mencerminkan keterpaduan program/ kegiatan
yang direncanakan pemerintah dengan perencanaan yang dibutuhkan oleh masyarakat
desa sehingga akan terlahir rasa memiliki (sense of belonging) yang akan
menunjang pada kegiatan dan atau program-program yang dimaksud.
V. KESIMPULAN
Dalam penggalian sebuah potensi wisata yang didasari dengan pedekatan metode
Participatory Rural Appraisal (PRA) partisiaptif masyarakat mutlak diperlukan. Karena
masyarakatlah yang mengetahui dengan baik detail dari desa mereka. Pelibatan masyarakat
ini dilakukan untuk mendukung pengimplementasian Undang-undang nomor 6 tahun
2014 pasal 1 tentang desa, yang didalamnya mengangkat tentang pemberdayaan
masyarakat desa sebagai upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan
masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan
sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan
yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa.
Secara ringkas tahapan-tahapan pelaksanaan PRA
meliputi: 1) Melakukan pengamatann selama di lapangan (observasi), 2)
Partisipatif pemetaan, 3) Focus Group
Discussion (FGD). Melalui tahapan-tahapan tersebut diharapkan
potensi-potensi wisata aktual dan potensial di desa Tanjung dapat
teridentifikasi dan terpetakan. Kemudian hasil penelitian ini bisa digunakan
sebagai acuan atau pedoman untuk rencana pengembangan kepariwisataan di Desa
Tanjung pada tahap selanjutnya.
Daftar Pustaka
Musllim, Aziz. 2007. PENDEKATAN
PARTISIPATIF DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Vol. VIII, No. 2:89-103.
Supriatna, Asep. RELEVANSI METODE
PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL DALAM MENDUKUNG IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG
PEMERINTAH DESA. Banten: Jurnal Lingkar Widyaiswara. Edisi 1, No. 1:39-45.
Putrikam Ikhtiari, Yuselg. KAMPUNG
WAYANG SEBAGAI SATU UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA KEPUHSARI KECAMATAN
MANYARAN KABUPATEN WONOGIRI. Diambil dari: http://eprints.uny.ac.id/41493/
Nur Pranayoga, Beni. IMPLEMENTASI METODE
DISKUSI DAN PRESENTASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF SISWA PADA
MATA PELAJARAN KOPLING KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH 4 KLATEN TENGAH. Diambil dari:
http://eprints.uny.ac.id/35037/1/Beni%20Nur%20Pranayoga%2010504242008.pdf
Umar, Husein. tahun. “Metodologi
Penelitian Aplikasi dalam pemasaran”. kota:penerbit
Laporan Akhir Kajian Profil Masyarakat
kampung Sarongge dalam Mendukung Pembangunan Pariwisata, Kabupaten Cianjur,
2011.






0 komentar:
Posting Komentar