Blog ini merupakan tugas mata kuliah SIP (Sistem Informasi Pariwisata) Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Semester-5

Sabtu, 28 September 2019

Pelestarian Terumbu Karang dengan Metode Biorock dan Pariwisata di Desa Pemuteran


PELESTARIAN TERUMBU KARANG DENGAN METODE BIOROCK DAN PARIWISATA DI DESA PEMUTERAN


PENDAHULUAN


Berdasarkan data tahun 2018 dari International Union for Conservation Nature (IUCN) mengenai daftar merah spesies hewan yang terancam punah yaitu, amphibians 40%, mammals 25%, conifers 34%, birds 14%, sharks and rays 31%, reef corals 33%, selected crustaceans 27%. Ada beberapa penyebab dari terjadinya hal tersebut. Populationmatters.org menyebutkan bahwa ada 6 penyebab kepunahan masal, kehilangan habitat, eksploitasi yang berlebihan, intensifikasi pertanian, perubahan iklim, polusi, serbuan spesies.
Pada tahun 2014-2015 silam Indonesia cukup terkena dampak dari fenomena El Nino. El Nino adalah anomali iklim di Pasifik Selatan. Fenomena ini terjadi antara pesisir barat Amerika Latin dan Asia Tenggara, namun efeknya bisa dirasakan ke seluruh penjuru dunia dan seringkali berujung pada bencana alam. Umumnya saat fenomena ini terjadi suhu air laut akan meningkat dan menyebabkan terumbu karang tidak dapat bertahan hidup dan banyak ikan-ikan yang tidak mendapatkan makanan kemudian pindah ketempat lain yang memeiliki terumbu karang lebih baik sebagai produsen makanan mereka. Padahal terumbu karang adalah salah satu unsur yang cukup vital dalam kehidupan bawah laut dan cukup rentan akan perubahan terutama perubahan suhu air laut. Karena terumbu karang adalah sekumpulan dari hewan karang yang melakukan simbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut dengan zooxanthellae.Terumbu karang termasuk jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang mempunyai tentakel-tentakel. Koloni terumbu karang ini terbentuk oleh ribuan hewan kecil yang dinamakan polip. Hewan ini memiliki warna yang beragam dan juga menghasilkan CaCO3 (kalsium karbonat). Terumbu karang adalah ekosistem laut yang paling beragam. Mereka dipenuhi dengan kehidupan, karena terumbu karang tersebut merupakan penghasil makanan dan juga sebagai tempat berlindung bagi hewan-hewan laut mulai dari yang berukuran kecil hingga hewan laut yang berukuran besar. Saat terumbu karang dianggap hanya mencangkup sebagian kecil (kurang dari satu persen) dari permukaan laut dan kurang dari dua persen dari dasar laut. Karena keanekaragamannya, terumbu karang disebut sebagai hutan hujan laut. Keragaman biota laut yang terdapat di wilayah perairan laut Indonesia begitu tinggi. Mulai dari ikan, moluska, krustasea, alga sampai dengan karang kesemuanya ditemukan di perairan laut Indonesia dengan jenis yang sangat beragam. Salah satu bukti tingginya keanekaragaman biota laut di Indonesia adalah dengan terbentuknya Coral Triangle Initiative (CTI) dan Indonesia termasuk didalamnya bersama beberapa negara lain seperti Malaysia, Filipina, Timor Leste, dan Papua New Guinea. Lebih dari 500 jenis karang hidup di perairan Indonesia, khususnya di perairan laut wilayah timur Indonesia.
Banyak manfaat dari adanya terumbu karang karena tidak hanya sebagai hiasan untuk mempercantik lautan tetapi memiliki banyak manfaat seperti manfaat secara ekologis, manfaat secara ekonomis, dan manfaat secara sosial. Manfaat terumbu karang secara ekologis adalah sebagai penunjang kehidupan, sumber keanekaragaman hayati, pelindung pantai dan pesisir, dan mengurangi pemanasan global. Manfaat terumbu karang secara ekonomis adalah sebagai sumber makanan karena terumbu karang sebagai tempat hidup biota-biota laut, sebagai objek wisata, sumber mata pencaharian, dan sebagai sumber bibit budidaya. Secara sosial adalah sebagai penunjang kegiatan pendidikan dan penelitian dan sarana rekreasi masyarakat. Begitu banyaknya manfaat yang bisa didapat dengan lestarinya terumbu karang namun anomali iklim yang terjadi yaitu El Nino menyebabkan Indonesia terutama Organisasi Pelestarian Karang yaitu Yayasan Karang Lestari sangat merasakan dampak tersebut dikarenakan >50% terumbu karang yang sudah berhasil mereka kembangkan dengan metode biorock harus mati. El nino yang terjadi di Indonesia pada tahun tersebut merupakan yang terlama menurut staff Biorock yaitu sekitar satu tahun.

 
Sumber: http://www.ourenvironment.info/coralcalamity.html


Ini adalah gambar ilustrasi dari terumbu karang yang memutih (mati) akibat dari perubahan dari temperatur aut, polusi, terau sering terpapar matahari, dan dalam posisi yang terlalu dangkal. Selain dari 4 hal tersebut bisa juga disebabkan oleh hewan predator karang. Contoh predator karang adalah Crown of Thorn (sejenis bintang laut namun berduri dan beracun), Drupella (sejenis keong dan berukuran kecil), Kepiting (berwarna merah/ hitam cenderung gelap, berbulu, dan bermata putih). Untuk mengetahui karang yang sudah mati bisa diketahui secara kasat mata yaitu warna yang mulai memutih dan bisa juga dengan cara meraba ujung-ujung karang atau biasa disebut polip apakah masih berlendir atau tidak.

Sumber:http://www.livingoceansfoundation.org/science/crown-of-thorns-starfish/

Gambar diatas adalah Crown of Thorns Starfish yaitu sejenis bintang laut yang berduri dan beracun. Menurut pengalaman dan informasi dari staff Biorock Indonesia bahwa hewan ini adalah predator karang yang dapat memakan karang (membuat karang mati) sebanyak 1m2 hanya dalam waktu 1 malam saja.


                                     Sumber: DokumenPribadi/ PanduDwi

Gambar diatas adalah Drupella. Sejenis keong dan berukuran kecil yang merupakan salah satu predator karang.


                                     Sumber: DokumenPribadi/ PanduDwi

Gambar diatas adalah sebuah kepiting yang juga termasuk dalam kategori predator karang. Tidak mudah untuk menemukan hewan ini karena hewan ini berada disela-sela karang dan membutuhkan usaha kebih untuk menemukan dan juga memindahkan hewan ini.

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut UU no.10 tahun 2009 yang dimaksud dengan pariwisata adalah segala macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta laanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Sebagai suatu aktivitas, pariwisata telah menjadi bagian penting dari kebutuhan dasar masyarakat baik di negara maju maupun di negara berkembang. Pariwisata semakin berkembang sejalan perubahan-perubahan sosial, budaya, ekonomi, teknologi, dan politik. Runtuhnya sistem kelas dan kasta, semakin meratanya distribusi sumberdaya ekonomi, ditemukannya teknologi transportasi telah mempercepat mobilitas amnusia antar daerah, negara, dan benua, khususnya dalam hal pariwisata.
Pada zaman sekarang ini pariwisata banyak sekali macamnya. Pariwisata berbasis budaya, pariwisata berbasis alam, pariwisata buatan manusia. Banyak isu ekploitasi sumberdaya baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia membuat sebuah terobosan dan mucullah gagasan yaitu pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism. Daalm buku Perencanaan Ekowisata karya Janianton D & Helmut F. Weber pengertian dari sustainable tourism menurut Komisi Brundtland (1987) yaitu pengembangan berkelanjutan sebagai development which meets the needs of the present withut compromising the ability of future generations to meet their own needs. Sebelom diadakannya Rio Summit 1992 ide-ide dan ketertarikan untuk mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan sudah banyak disuarakan. Dengan sebuah laporan pertama mengenai konsep penegmbangan yang berkelanjutan yaitu “World Conservation Strategy” pada 1980 yang dipublikasikan oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources. Pada tahun 1987 “The World Commision on Environment and Development mempublikasikan “Our Common Future” atau yang biasa dikenal sebagai Brundtland Report.  Laporan tersebut berasal dari sebuah ide yang kuat yaitu “Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, teteapi kita meminjamnya dari anak cucu kita (Murphy, 1994). Hingga pada akhirnya pada tahun 1992 hal tersebut di deklarasikan dalam Rio Summit 1992 dan Agenda 21 dengan mengangkat isu mengenai pemanasan global dan kabut bercampur asap.

Bagan konsep the relationship between sustainable tourism and other terms


Sumber: Sustainable Tourism Management (J.Swabrooke:Page 14)

Salah satu dari jenis pariwisata yang berada di dalam sustainable tourism dan cocok dengan Desa Pemuteran adalah ecotourism. Ecotourism dalam deklarasi Quebec secara spesifik disebutkan bahwa ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang mengadopsi prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan yyang memebedakannya dengan bentuk wisata lain. Di dalam praktik hal itu terllihat dalam bentuk kegiatan wisata yang: a. Secara aktif menyumbang kegiatan konservasi alam dan budaya; b. Melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan wisata serta memberikan sumbangan positif terhadap kesejahteraan mereka; c. Dilakukan dalam bentuk wisata independen atau diorganisasi dalam bentuk kecil (UNEP, 200; Heher, 2003). Dengan kata lain ekowisata adalah bentuk industri pariwisata berbasis lingkungan yang memberikan dampak kecil bagi kerusakan alam dan budaya lokal sekaligus menciptakan peluang kerja dan pendapatan serta membantu kegiatan konservasi alam itu sendiri (Panos, dikutip oleh Ward, 1997).
Berikut beberapa prinsip ekowisata (TIES, 2000), yakni:
a.       Mengurangi dampak negatif berupa kerusakan atau pencemaranllingkungan dan budaya lokal akibat kegiatan wisata.
b.      Membangun penghargaan dan penghargaan atas lingkungan dan budaya di destinasi wisata, baik pada diri wisatawan, masyarakat lokal maupun pelaku wisata lainnya.
c.       Menawarkan pengalaman-pengalaman positif bagi wisatawan maupun masyarakat lokal melalui kontak budaya yang lebih intensif dan kerjasama dalam pemeliharaan atau konservasi ODTW.
d.      Memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi keperluan konservasi melalui kontribusi atau pengeluaran ekstra wisatawan.
e.       Memberikan keuntungan finansiall dan pemberdayaan bagi masyarakat lokal dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai-nilai lokal.
f.       Meningkatkan kepekaan terhadap situasi sosial, lingkungan dan politik di daerah tujuan wisata.
g.      Menghormati hak asasi manusia dan perjanjian kerja, dalam arti memberikan kebebasan kepada wisatawan dan masyarakat okal untuk menikmati atraksi wisata sebagai wujud hak azasi, serta tunduk pada aturan main yang adil dan disepakati bersama dalam pelaksaan transaksi-transaksi wisata.

PEMBAHASAN
Terumbu karang yang merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan bawah laut juga bisa dimanfaatkan dan menghasilkan dari segi ekonomis melalui pariwisata. Contoh pemanfaatan terumbu karang untuk kebutuhan pariwisata adalah sebagai daya tarik dalam melakukan aktiitas air berupa scuba diving ataupun snorkeling. Namun, dalam pemanfaaatanya tidak boleh terlalu berlebihan karena hal tersebut akan menyebabkan ketidakseimbangan dan munculnya berbagai masalah seperti contohnya yaitu polusi terutama polusi air. Polusi air yang dimaksud contohnya yaitu sampah wisatawan, jumlah kunjungan yang terlalu banyak dalam waktu yang bersamaan (mengganggu hewan-hewan laut yang tinggal ditempat tersebut), limbah yang langsung menuju ke pantai tanpa adanya pengolahan dahulu, mencari ikan dengan metode yang merusak seperti penggunaan bom, potasium, ataupun tangkad, dll. Hal-hal inilah yang coba diterapkan disebuah desa di utara pulau Bali yaitu Desa Pemuteran.
Desa Pemuteran adalah sebuah desa yang letaknya di sebelah barat pulau Bali tepatnya di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:

Batas Administrasi
Utara
Laut Bali
Barat
Desa Sumberkima
Selatan
Hutan Negara
Timur
Desa Banyupoh

                                      Sumber: Profile Desa Pemuteran Tahun 2017


Dan berikut adalah jarak menuju Desa Pemuteran dari beberapa pintu masuk kedatangan wisatawan:

Jarak Menuju Desa Pemuteran
Dari
Nama
Jarak/ km
Waktu Tempuh
Keterangan
Ibukota Kecamatan
Gerokgak
18 km
30 menit bermotor
Terdapat Kendaraan Umum
Ibukota Kabupaten
Buleleng
57 km
1,5 jam bermotor
Terdapat Kendaraan Umum
Ibukota Provinsi
Bali
160 km
4 jam bermotor
Terdapat Kendaraan Umum
Bandar Udara
I Gusti Ngurah Rai

±5 jam bermotor
Terdapat Kendaraan Umum
Pelabuhan Laut
Celukan Bawang/ Gilimanuk
10 km/ 20 km
15 menit/ 20 menit bermotor
Terdapat Kendaraan Umum
Terminal Bus/ Angkot
Seririt
25 km
30 menit bermotor
Terdapat Kendaraan Umum
Stasiun Kereta Api
-
-
-
-
        Sumber:Profile Desa Pemuteran 2017

Memilki teluk yang indah dan juga dikelilingi oleh gunung-gunung membuat Desa Pemuteran menjadi sebuah destinasi pariwisata. Yang dimkasud sebagai destinasi pariwisata dalam UU no.10 tahun 2009 adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
Dalam membangun pariwisata regulasi baik nasional, regional, maupun lokal tentu sama-sama memiliki tujuan yang positif dan meminimalisir dampak negatif. Dalam Perda Bali no 16 tahun 2009 pasal 42, yang mencangkup kawasan lindung meliputi: a. Kawasan yang memeberikan perindungan kawasn bawahnya; b. Kawasan perlindungan setempat; c. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya; d. Kawasan rawan bencana alam; e. Kawasan lindung geologi; f. Kawasan indung lainnya. Desa Pemuteran termasuk dalam kawasan suaka alam kategori kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil. Selain undang-undang tersebut, dalam membangun pariwisata di Desa Pemuteran secara tidak langsung masyarakat di tempat tersebut telah menerapkan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism). Hal ini dikarenakan meyakini bahwa dengan melibatkan masyarakat akan menimbulkan rasa memiliki terhadap daerah mereka. Sesuai dengan pengertian pariwisata berbasis masyarakat, menurut Suansri (2003: 14), Community-Based Tourism merupakan pariwisata yang memperhitungkan aspek keberlanjutan lingkungan, sosial dan budaya yang menekankan pada masyarakat lokal (baik yang terlibat langsung dalam industri pariwisata maupun tidak) dalam bentuk memberikan kesempatan dalam manajemen dan pembangunan pariwisata yang berujung pada pemberdayaan termasuk dalam pembagian keuntungan dari kegiatan pariwisata yang lebih adil bagi masyarakat lokal. Sehigga dapat disimpulkan bahwa fokus dari pariwisata berbasiskan masyarakat adalah untuk memberikan dampak positif pariwisata kepada masyarakat lokal (National Seminar of Sustainable Tourism Development: 2009). Hal tersebut melalui pelibatan masyarakat secara aktif baik dalam membuat peraturan lokal (awig-awig) maupun dalam pelaksanaan hal tersebut karena pada akhirnya masyarakatlah jugalah yang akan menjalankan hasil dari keputusan bersama tersebut.

Peraturan Lokal/ Awig-awig Desa Pakraman Pemuteran

                                                  Sumber: Dokumentasi Pribadi/ PanduDwi
 


Dalam peraturan tersebut tercangkup hasil kesepakatan Paruman Kelihan & Prajuru Desa Pakraman Pemuteran, Perbekel Desa Pemuteran, Kelembagaan Desa Pakraman Pemuteran, POKMASAWAS Pecalang Segara, dan Semua Pengurus Kelompok Nelayan Se-Pemuteran untuk menjaga kondusifitas laut, darat, dan hutan agar tetep lestari. Selain dari kesepakatan tersebut masyarakat Desa Pemuteran juga menjunjung visi dan misi dari desa mereka.
Masyarakat Desa Pemuteran adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi visi dan misi Desa Pemuteran (tahun 2011-2016) yaitu, “Terwujudnya Desa Pemuteran yang Sejahtera Berbasis Pariwisata-Budaya yang Dijiwai Tri Hita Karana” dan juga digagas oleh Bapak I Gusti Agung Prana mengalami perkembangan pesat dari yang tadinya hanyalah sebuah desa terpencil biasa kini menjadi sorotan dunia karena berhasil memenangkan perhargaan internasional yaitu dari UNWTO, Lonely Planet, dsb. Sejalan dengan penghargaan-penghargaan yang telah diberikan maka tanggung jawab yang harus diemban oleh Desa Pemuteran semakin besar pula untuk terus menjaga dan mengembangkan sumber daya alam dan manusianya ke arah yang lebih baik.
Sebelum Desa Pemuteran mendapatkan banyak penghargaan baik nasional maupun internasional dan tekenal hingga ke mancanegara seperti saat ini, Desa Pemuteran dulunya adalah desa yang kering jadi sangat menyulitkan untuk bertani karena hanya ada beberapa tanaman yang bisa ditanam seperti anggur, umbi-umbian, dll dan juga metode pencarian ikan masyarakat yang mayoritas nelayan yaitu menggunakan bom dan potasium sehingga merusak teumbu karang. Selain itu, Desa Pemuteran juga desa yang jauh dari keramaian. Didasari hal tesebut pada tahun 1998, Alm. Bapak Agung Prana melirik ada potensi yang bisa dikembangkaan terutama gunung dan laut (nigara gunung) atau bisa diistilahkan seperti yinyang.
Melihat adanya potensi tersebut mulailah dibuka hotel melati dibarengi dengan konservasi terumbu karang dengan metode biorock. Perlahan-lahan Alm. Bapak Agung Prana mempromosikan Desa Pemuteran dan membuat perareman atau rapat-rapat kecil untuk menyadarkan masyarakat dalam mencari ikan agar tidak ada lagi yang mencari dengan bom dan potasium. Selain Alm. Bapak Agung Prana ada juga orang asing dari luar tepatnya Australia yaitu Bapak Chris Brown yang merupakan owner/ director PT. Pemuteran Wisata Tirta (Reef Seen Divers Resort). Turut sertanya Bapak Chris Brown dalam mengembangkan pariwisata di Desa Pemuteran menarik para wisatawan untuk datang bahkan sebuah Web Travelling terkenal yaitu Lonely Planet. Pada tahun 1992 Lonely Planet menawarkan diri untuk meliput Desa Pemuteran dalam artikelnya namun belom siapnya masyarakatlah apabila terjadi pariwisata secara massive yang menjadi pertimbangan Bapak Chris Brown. Sekitar tahun 2000 dalam kurun waktu 8 tahun Alm. Bapak Agung Prana dan Bapak Chris Brown beserta seluruh masyarakat pemuteran terus berbenah diri mengembangkan keahlian di bidang pariwisata seperti diving, food & beverage, hotel, serta konservasi terumbu karang dengan metode biorock.
Biorock adalah suatu proses teknologi deposit elektro mineral yang berlangsung di dalam laut, biasanya disebut juga dengan teknologi akresi mineral. Pada tahun 1974 teknologi ini dikembangkan oleh Prof. Wolf H. Hilbertz, seorang arsitek berkebangsaan Jerman. Teknologi ini awalnya dikembangkan untuk mendapatkan bahan bangunan jenis baru. Tetapi pada tahun 1988, Prof. Wolf H. Hilbertz bertemu dengan dengan Dr. Thomas J. Goreau, seorang ahli ekologi karang dari AS. Mereka mendirikan GCRA (Global Coral Reef Alliance) dan mulai melakukan riset untuk mengembangkan lagi teknologi biorock dengan fokus pada perkembangbiakan, pemeliharaan dan restorasi terumbu karang serta struktur proteksi pesisir.
Biorock bekerja menggunakan proses elektrolisis air laut, yaitu dengan meletakkan dua elektroda di dasar laut dan dialiri dengan listrik tegangan rendah yang aman sehingga memungkinkan mineral pada air laut mengkristal di atas elektroda. Biorock dibentuk dengan menggunakan struktur besi sebagai katoda dan karbon, timah atau titanium sebagai anoda. Saat dialiri listrik, struktur biorock ini menimbulkan reaksi elektrolitik yang mendorong pembentukan mineral di struktur katoda. Mineral yang mengendap adalah kalsium karbonat dan magnesium hidroksida.

Cara kerja metode Biorock dalam rehabilitasi terumbu karang.

  


                                                 Sumber :www.Biorock-indonesia.com

 

Berawal dari percobaan di Desa Pemuteran, keberhasilan penggunaan metode biorock ini dilirik dan telah dikembangkan di berbagai lokasi di Indonesia. Pulau seribu (Pulau Kotok, Pulau Pramuka, dan Pulau Sepa), Jawa Timur, Maluku (Desa Halong), Sulawesi Utara (Pulau Gangga), Suawesi Selatan, Sumba, dan Nusa Tenggara Barat (Gili Matra & Lombok).

Kondisi Terkini Terumbu Karang di Desa Pemuteran
Sumber: Dokumentasi Pribadi/ PanduDwi



Dengan penggunaan metode biorock dan menjunjung tinggi visi & misi Desa Pemuteran adalah dasar pengembangan pariwisata di Desa Pemuteran. Dengan melibatkan masyarakat dan juga menerapkan pariwisata berkelanjutan yaitu Ecotourism membuat pariwisata di Desa Pemuteran tidak hanya menjual daya tarik pariwisata tapi juga mengedukasi para wisatawan yang datang agar peduli terhadap lingkungan agar tercipta kenyamanan bersama baik bagi warga setempat maupun turis-turis yang datang ke Desa Pemuteran. Melalui hal tersebut, diharapkan terjadi keselarasan antara manusia-Tuhan-Alam (Tri Hita Karana). Hingga saat ini hal tersebut masih menjadi pegangan bagi masyarakat setempat dan pariwisata di Desa Pemuteran terus berkembang dan diliat wisatawan bahwa pemuteran adalah tempat yang aman dan nyaman untuk berkunjung sehingga wisatawan yang sebelomnya datang akan kembali berkunjung bahkan membawa teman ataupun keluarga mereka.

KESIMPULAN

Memiliki sebuah metode pelestarian karang yang sangat unik yaitu dengan menggunakan aliran listrik DC dan kombinasi seni arsitektur bawah laut dari seniman lokal membuat Desa Pemuteran yang tadinya hanya desa terpencil biasa kini menjadi sorotan dunia. Didukung dengan regulasi baik nasional, regional, maupun lokal membuat Desa Pemuteran menjadi tempat berwisata yang aman dan nyaman bagi masyarakat dan setiap orang yang datang berkunjung. Selain itu, dengan diikutsertakannya masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan membuat masyarakat terbangunlah jiwa memiliki bagi desanya. Karena setiap keputusan yang dibuat pada akhirnya yang akan menjalankan hal tersebut adalah masyarakat. Sebuah keberhasilan, menggabungkan sebuah metode pelestarian yang baik dan masyarakat yang mau terbuka serta menerima kemajuan yang terjadi pada desanya karena adanya pariwisata.  

 



DAFTAR PUSTAKA

J.Swabrooke.1998.Sustainable Tourism Management.New York: CABI Publishing.
Damanik, Janianton & Hellmut F. Weber.2006. Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi. Yogyakarta: Andi

(https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/laut/terumbu-karang)
(https://ocean.si.edu/ocean-life/invertebrates/corals-and-coral-reefs)
(http://blog.sivitas.lipi.go.id/blog.cgi?isiblog&1145173011&&&1036008555&&1219212557&dhar001&1240293860
(https://www.iucnredlist.org/ https://www.iucnredlist.org/)
(https://www.dw.com/id/apa-itu-el-nino/a-17801255)
(https://www.dw.com/id/terumbu-karang-cegah-kerugian-negara-rp-56-trilyun-tahun/a-44193466
(https://populationmatters.org/the-facts/biodiversity)
(http://www.ourenvironment.info/coralcalamity.html)
(https://www.livingoceansfoundation.org/science/crown-of-thorns-starfish/)
(https://www.biorock-indonesia.com

UU no.10 tahun 2009
Perda Bali no.16 tahun 2009
Profil Desa Pemuteran Kecamatan Gerokgak Tahun 2017
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

House of Culture

Mengangkat tentang wisata budaya yang ada di Toraja Utara dengan dasar studi literatur

Cari Blog Ini

Total Tayangan Halaman

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Tugas kelompok Pandu Dwi Utomo dan Maulana Abas